Kamis, 19 Mei 2022

MENGHADAPI MUSIBAH VIRUS CORONA DLL

 KHUTBAT JUMAT 27 Maret 2020,  “MENGHADAPI MUSIBAH VIRUS CORONA” Masjid Nurul Qomar PCH

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT kapanpun, di manapun kita berada dan dalam kondisi apapun. Baik ketika kita sedang bersama orang banyak, maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa takut akan terkena azab-Nya, kapan dan di mana pun kita berada. Karena, kewajiban menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya bukan hanya pada waktu dan saat-saat tertentu saja. Bahkan, beribadah kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad Saw, keluarga, sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Masyiral muslimin siding jumat rahimakumullah

Akhir2 ini dunia sedang dihebohkan dengan berjangkitnya virus corona covid-19 yang menyebar ke hampir seluruh dunia yang telah menelan puluhan ribu korban bahkan ribuan manusia meninggal dunia akibat wabah penyakit ini. Merupakan suatu keprihatian bagi kita semua, semua manusia waspada, dihinggapi rasa ketakutan, khawatir bahkan akibat musibah ini ekonomi dilanda keterpurukan dimana2. dan hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui kapan akan diangkat olehNya

Lantas bagaimana sikap kita sebagai orang yang beriman dalam menyikapi masalah ini, setidaknya ada beberapa hal yang harus kita instrospeksi diri disaat seperti ini.

Yang pertama tentunya kita kembalikan hal ini kepada Allah SWT, Sang Pencipta Yang menciptakan semua makhluknya baik yang besar yang tampak oleh mata kita maupun makhluk yg kecil yg juga tak tampak oleh mata kita, baik dilangit, didalam bumi maupun didalam lautan ataupun di dalam tubuh kita semua tak lepas dari pengawasan Allah SWT. Allah SWT berfirman :

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al-An’am [6] : 59).

Bahwa Allah Maha Mengetahui, semua yang ada dan terjadi di daratan dan di tempat-tempat sepi tersembunyi sekalipun, yang mencakup binatang, pepohonan, pasir kerikil, dan debu, termasuk bakteri dan virus. Juga segala hewan yang berada di laut, berupa binatang, tambang, ikan, dan lain-lain yang dikandungi oleh airnya.

Tiada sehelai daun pun yang gugur dari pohon darat, laut, kota, desa, dunia dan akhirat kecuali Allah mengetahuinya. Termasuk tidak ada sebutir bijipun yang jatuh dalam kegelapan bumi, berupa biji-bijian, buah-buahan dan tanaman, biji yang di tanam oleh manusia, dan biji-biji tanaman di darat yang menjadi cikal tumbuh-tumbuhan. Melainkan semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata atau Lauh Mahfudz

Maka, sepantasnyalah kita mengucapkan, kalimat pujian, “Subhaanallaah, walhamdulillaah, walaailaaha illaah, Allaahu Akbar.”

Yang kedua, tentunya kita harus bersabar atas segala yang menimpa kita karena apapun yg kita usahakan itu tak luput dari kontrolnya Allah SWT. surat al-Baqarah ayat 155, yang berbunyi:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٥

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar

Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa musibah atau bencana adalah hal niscaya yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Bencana, apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Berbagai peristiwa yang menimpa manusia pada hakikatnya merupakan ujian dan cobaan atas keimanan dan perilaku yang telah dilakukan oleh manusia itu sendiri, dan sabar adalah kunci mendapatkan ridho Allah SWT.

Sidang Jumat rahimakumullah

Ketiga Tidak takut terlalu berlebihan, bukankah kalau kita lihat sejarah bahwa telah berlalu juga wabah2 melanda seperti virus mers, flu burung aids dan lain sebagainya yang tentunya semua ada waktu dan masanya.

Adapun kemudian ada yang meninggal setelah terdampak virus corona, maka sesungguhnya kematian itu bukanlah karena seseorang atau benda apapun. Namun semata-mata karena ajal yang sudah Allah tentukan. Maka, bagi yang tertimpa wabah corona, atau apapun, tetap berharap dan bergantungnya mutlak kepada Allah.

Adapun kepada manusia, seperti periksa dokter, karantina perawatan, itu hanyalah ikhtiar, yang memang harus maksimal juga dilakukan, agar dapat sehat kembali.

Soal ajal, Allah menyebutkan di dalam firman-Nya :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ  وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً   ۗ  وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al-Anbiya [21]: 35).

Kita sebagai seorang beriman tentunya kita harus selalu mempersiapkan diri menghadapi maut yang juga merupakan hal yg ghaib dan tak tahu kapan maut itu akan menjemput kita dengan cara apapun semua ada dalam rahasia Allah SWT, dan Rasululah SAW berpesan bahwa sesungguhnya orang yang paling cerdas diatara kita adalah orang yg selalu mengingat maut dan selalu mempersiapkan bekal karena kematian bukan akhir dari segalanya tapi adalah awal babak baru menuju kehidupan selanjtnya yg tentunya akan diminta pertanggungjawaban atas perilaku kehidupan kita di dunia ini. Hanya dengan iman dan amal sholeh kita akan selamat. 6. Fa amma man-saqulat mawazinuh(u)
maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya , 7. Fa huwa di'isyatir radiyah(tin)
maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang), 8. Wa amma man khaffat mawazinuh(u)
dan adapun orang-orang ringan timbangannya (kebaikannya), 9. Fa ummuhu hawiyah(tun)
dan tempat kembalinya adalah neraka hawiyah

Ke empat, marilah kita bertobat dan menbersihkan diri. Bukankah Allah SWT telah sampaikan “Sesungguhnya Allah mencitai orang yang  bertobat lagi membersihkan diri”. Kembali kita mencontoh perikehidupan Rasulullah SAW yang senantiasa menjaga kesucian/kebersihan baik lahir maupun batin. Baik menjaga kebersihan badan kita, pakaian kita ataupun makanan kita bahkan juga kebersihan batin / hati kita. Sehingga apabila itu kita terapkan maka tak mustahil cinta Allah akan senantiasa bersama kita.

“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

“dan hendaklah kamu meminta ampun [istigfar] kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.,niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (Hud: 3)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30). Wallau a’lam..Barakallahu..

HIKMAH DAHYSAT - BULAN RAJAB

 Sekarang kita telah memasuki bulan Rajab. Salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keempat yang dimuliakan tersebut adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.  

Firman Allah menegaskan hal tersebut:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS At-Taubah: 36) 

 Hadirin Rahimakumullah

Ayat di atas menjelaskan tentang kemuliaan empat bulan dibanding bulan lain dalam setahun. Apakah mungkin Allah yang menciptakan semua bulan itu sendiri, tapi ada yang lebih mulia daripada bulan yang lain?  

Jawabnya mungkin-mungkin saja. Kita bisa melihat, ada hari-hari dalam sepekan, namun dibandingkan yang lain, hari Jumat merupakan hari paling mulia. Ada bulan-bulan dalam setahun, Ramadlan yang paling mulia, di situ orang-orang diwajibkan berpuasa. Hari Arafah lebih mulia daripada hari-hari lain dalam setahun, lailatul qadar lebih utama daripada malam-malam lain, dan Nabi Muhammad lebih utama daripada semua makhluk, dan seterusnya.  

Artinya meskipun masing-masing diberi kemuliaan oleh Allah, atas kehendak-Nya membuat kemuliaan antara yang satu lebih tinggi dari lainnya karena memang kehendak-Nya demikian. Termasuk bulan Rajab beserta tiga bulan lainnya, Allah lebih memuliakan dibandingkan bulan lain.  

Di bulan ini orang-orang dilarang melakukan peperangan dan mengangkat senjata. Jadi siapa pun merasa aman. Bahkan para pakar fiqih memperberat sanksi diyat bagi siapa pun yang membunuh seseorang pada bulan-bulan ini dengan hukuman yang lebih berat.  

Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan tentang empat bulan yang dimuliakan tersebut dengan kalimat berikut:

   وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهَا أَشَدُّ عِقَابًا، وَالطَّاعَةَ فِيهَا أَكْثَرُ ثَوَابًا 

 Artinya: Yang dimaksudkan dengan bulan-bulan yang dimuliakan di sini, sesungguhnya maksiat dalam bulan ini siksanya lebih berat. Jika menjalankan ketaatan, pahalanya dilipatgandakan. (Tafsir Ar-Râzi) 

Pada bulan Rajab ini perlu menjadi pengingat untuk pribadi kita, supaya membersihkan diri dari kotoran maksiat. Mari hentikan caci maki, menyebar kabar bohong, hoaks, fitnah menggunjing sesama warga negara dan bentuk perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Ingatlah, dosanya dilipatgandakan.  

Kita perlu waspada, perilaku dosa di bulan ini tidak main-main. Kalau perang yang jelas-jelas membela agama Islam di masa Rasulullah saja disuruh berhenti karena menghormati bulan mulia, apalagi caci maki, memang seharusnya untuk dihentikan sekarang juga. Tidak usah menunggu besok-besok. Apalagi di bulan mulia, mari mulai konsentrasi memikirkan akhirat yang abadi, menyambut bulan Ramadlan yang suci tinggal sebentar lagi.  

Al-Imam Dzun Nûn Al-Mishriy mengatakan:

    رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ 

Artinya: Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram, sedangkan Ramadlan adalah bulan menuai. 

وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، فَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ الْحَصَادِ 

Artinya: Setiap orang akan mengunduh atas apa yang ia tanam. Barangsiapa yang tidak merawat tanamannya, ia akan menyesal saat musim panen.  

Hadirin yang Dirahmati Allah

Pada bulan Rajab sebagai bulan menanam ini, jangan sampai kita bercocok tanam keburukan. Minimal, jika kita tidak bisa menanam dengan membantu atau membuat orang lain tersenyum, setidaknya jangan sampai kita merugikan orang lain. Jangan sakiti siapa pun. Mari kita mulai dari bulan Rajab yang mulia ini.  

HIKMAH DAHSYAT - BULAN ZULQO'DAH

 

Khutbah Jumat  “HIKMAH BULAN ZULQO’DAH”

Jumat, 18 JUNI 2021, by Supriyanto – Masjid Nurul Qomar

Hadirin rahimakumullah

Waktu berjalan begitu cepat hari berganti minggu berlalu bulan berjalan, watu itu tahu tahu. Seolah baru 2 bln kemaren kita di bulan ramadhan dengan segala aktifitas ibadah sebulan penuh kemudian berganti dengan bulan Syawal dimana kita dianjurkan untuk lebih meningkatkan  ibadah dan amaliyah didalamnya.

Sekarang kita telah memasuki bulan Dzulqo’dah. Salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keempat yang dimuliakan tersebut adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.  

Firman Allah menegaskan hal tersebut:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS At-Taubah: 36) 

 Hadirin Rahimakumullah

Ayat di atas menjelaskan tentang kemuliaan empat bulan dibanding bulan lain dalam setahun. Apakah mungkin Allah yang menciptakan semua bulan itu sendiri, tapi ada yang lebih mulia daripada bulan yang lain?  

Jawabnya mungkin-mungkin saja. Kita bisa melihat, ada hari-hari dalam sepekan, namun dibandingkan yang lain, hari Jumat merupakan hari paling mulia. Ada bulan-bulan dalam setahun, Ramadlan yang paling mulia, di situ orang-orang diwajibkan berpuasa. Hari Arafah lebih mulia daripada hari-hari lain dalam setahun, lailatul qadar lebih utama daripada malam-malam lain, dan Nabi Muhammad lebih utama daripada semua makhluk, dan seterusnya.  

Artinya meskipun masing-masing diberi kemuliaan oleh Allah, atas kehendak-Nya membuat kemuliaan antara yang satu lebih tinggi dari lainnya karena memang kehendak-Nya demikian. Termasuk bulan Rajab beserta tiga bulan lainnya, Allah lebih memuliakan dibandingkan bulan lain.  

Di bulan ini orang-orang dilarang melakukan peperangan dan mengangkat senjata. Jadi siapa pun merasa aman. Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan tentang empat bulan yang dimuliakan tersebut dengan kalimat berikut:

   وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهَا أَشَدُّ عِقَابًا، وَالطَّاعَةَ فِيهَا أَكْثَرُ ثَوَابًا 

 Artinya: Yang dimaksudkan dengan bulan-bulan yang dimuliakan di sini, sesungguhnya maksiat dalam bulan ini siksanya lebih berat. Jika menjalankan ketaatan, pahalanya dilipatgandakan. (Tafsir Ar-Râzi) 

Pada bulan Zulqo’dah ini perlu menjadi pengingat untuk pribadi kita, dan menjadikan sebagi momentum untuk perubahan ke arah yang lebih baik, supaya membersihkan diri dari kotoran maksiat. Mari hentikan caci maki, menyebar kabar bohong, hoaks, fitnah menggunjing sesama dan bentuk perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Ingatlah, dosanya dilipatgandakan.

Hadirin rahimakumullah

 Tak bosan2nya kita akan selalu diingatkan akan pentingnya tujuan kita diciptakan kedunia ini oleh Allah SWT, Allah ciptakan kita tidak untuk main2 atau sia2 saja, dan sudah pasti tentunya harus kita laksanakan sampai akhir hayat kita nanti. Sebagaimana firman Allah “وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ..dan sembahlah / beribadahlah kepada Allah sampai ajal menjemput :

 

 

Maka ulama katakan setidaknya ada 4 tujuan kita diciptakan kedunia ini :

1.     Beribadah/mengabdi kepada Allah “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia agar beribadah kepadaku”

Menurut tafsir Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:

" bahwa tujuan Allah menciptakan kita manusia serta jin dan makhluk lainnya di bumi ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Allah tidak mungkin menciptakan makhluk begitu saja tanpa pelarangan atau perintah" .

Tujuan ini mendidik manusia untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

 

Tentunya dalam ibadah ini kita harus melakukan yg terbaik dan ini merupakan ujian dari Allah sebagaimana  firmanya “Dialah Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian dan hendak menguji kalian siapa diatara kalian yang terbaik amalnya Al-Mulk 2

2.     Tujuan penciptaan manusia selanjutnya adalah sebagai pengurus bumi dan seisinya. Khalifah adalah hamba Allah yang ditugaskan untuk menjaga ke- maslahatan dan kesejahteraan dunia. Tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah juga tertuang dalam QS. al-An’am ayat 165 yang berbunyi:

” Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

3.     Tujuan penciptaan manusia yang ketiga adalah mengemban amanah. Tujuan ini berupa kesanggupan manusia memikul beban taklif yang diberikan oleh Allah SWT. Tujuan penciptaan manusia ini mendidik orang-orang beriman supaya selalu memelihara amanah dan mematuhi perintah tersebut.

Hal ini sesuai dengan QS al-Ahzab ayat 72 yang berbunyi:

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

” Sesungguhnya kami Telah menge- mukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”

 

Amanah yang sudah ditetapkan tersebut agar ti- dak dikhianati, baik amanah dari Allah SWT dan RasulNya maupun amanah antara sesama manusia

 

4.    Tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia senantiasa mengetahui maha kuasanya Allah SWT. Ini meliputi pemahaman bahwa seluruh alam semesta, termasuk bumi, tata surya dan sesisnya terbentuk atas kuasa Allah SWT. Hal tersebut telah dijelaskan dalam QS at-Thalaq: 12 yang berbunyi:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha-Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."

 

Bumi yang kita pijak langit yang kita lihat diatas kita bahkan didalam tubuh kita dari mulai ujung rambut sampai telapak kaki semua ini ada tanda2 kebesaran Allah SWT.

 Oleh kare itu marilah kita senantiasa ingat akan tujuan kita diciptakan oelh Allah SWT didunia ini dan kita laksanakan perintah Allah SWT ini dengan sebaik2nya dan kita selalu memohon kepada Allah agar sentiasa diberikan sifat ikhlas dan istiqomah sampai akhir hayat kita sehingga kita digolongkan oleh Allah sebagai orang2 yang mulia bahagia beruntung fiddunya wal akhirah, aamiin ya rabbal ‘alamiin

 

Barakallahu…

 

PESAN PESAN TERAKHIR RAMADHAN

 PESAN2 TERAKHIR RAMADHAN

Bergulirnya waktu tak terasa telah menghantarkan kita di pengujung bulan suci Ramadhan. Tamu agung itu kini akan berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan sebagai hadiah terbaik bagi kita semua. Deraian air mata kerinduan karena perpisahan dengan tamu agung ini dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana para sahabat meneteskan air mata kesedihan karena takut tidak bisa bertemu kembali dengannya.

Andai Ramadhan bisa berpesan pada kita, maka inilah yang mungkin akan disampaikannya:

Pesan pertama: setelah aku pergi, jangan kau lupakan aku (puasa) karena aku akan datang kembali menghampirimu selama 6 hari di bulan Syawal itu tiada lain agar aku dan kamu senantiasa dekat, aku akan lebih dekat lagi ketika kau melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau puasa ayyâmul baidh (tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan qamariyah), puasa Arafah, puasa Asyura, bahkan Rasulullah SAW menganjurkan untuk melaksanakan puasa Daud (sehari berpuasa sehari berbuka). Itu semua tiada lain agar kau selalu mengingatku, sehingga aku pasti menunggumu di pintu ar Rayyân.

Pesan kedua: setelah aku pergi, jangan kau biarkan kitab suci Alquran bersampulkan debu, buatlah jadwal agar kamu bisa tetap membacanya seperti sediakala ketika aku ada bersamamu.

Ketahuilah bahwa Alquran itu salah satu gizi hatimu, dan Alquran merupakan salah satu yang dapat memberimu syafaat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Alquran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah SWT memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Pesan ketiga: setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan shalat malam walaupun kamu sanggup hanya melakukan beberapa rakaat saja, sungguh shalat malam mampu mendekatkanmu dengan Raja-ku.

Pesan keempat: setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan kebaikan-kebaikan yang sudah kamu lakukan di saat aku ada di sisimu, ketahuilah bahwasanya Raja-ku senantiasa mencintai satu amalan kebaikan yang dilakukan tanpa henti walaupun itu sedikit. Sebagaimana sebuah hadis dari ’Aisyah RA, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).

Pesan kelima: saat aku pergi, duhai kasihku Muslimah jangan kau lepaskan kembali jilbabmu, karena di situ kehormatan dan kemuliaanmu terjaga, jangan kau memakainya karena aku, tapi pakailah ia karena Raja ku.

Pesan terakhir: Kun Rabbâniyyan walâ takun Ramadhâniyyan, jadilah kau insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, jangan kau beribadah hanya dibulan Ramadhan saja, karena sungguh Allah itu Tuhan di seluruh waktu.

Wallahu A’lam

Penulis adalah sahabat Republika online di Kairo, Mesir.

TAQWALAH DIMANAPUN ANDA BERADA

 KHUTBAT JUMAT 24 Januari 2020,  “TAQWA DIMANA SAJA” Masjid Nurul Qomar PCH

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di manapun kita berada. Baik ketika kita sedang bersama orang banyak, maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa takut akan terkena azab-Nya, kapan dan di mana pun kita berada. Karena, kewajiban menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya bukan hanya pada waktu dan saat-saat tertentu saja. Bahkan, beribadah kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)

 

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad Saw, keluarga, sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena takwa adalah wasiat Allah SubhanahuwaTa’ala sebagaimkan firman-Nya

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ

Dan sungguh Kami telah memerintahkankepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepadakamu; bertaqwalah kepada Allah” (QS. AnNisa’: 131)

 

Menurut ayat ini takwa adalah wasiat Allah kepada seluruh manusia, baik orang-orang terdahulu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Demikian juga takwa adalah wasiat orang-orang shalih dari kalangan umat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, mewasiatkan kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Mu’adz bin Jabal untuk bertakwa kepada Allah

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعْ السَيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan dosa dengan amal kebajikan, niscaya kebajikan tersebut akan menutupinya.

Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi,)

 

Ada tiga permasalahan penting yang mencakup bagaimana manusia beradab kepada Tuhan mereka dan berbuat baik antar sesama.Takwa dalam arti yang sederhana yaitu melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi larangan-larangan-Nya

Bertaqwa/taat kepada Allah dimana saja kita berada saat ramai maupun sendirian, satu lagi nasehat Rasulullah SAW :

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245.)

 

Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kabair (2: 764) mengenai dosa besar no. 356, “Termasuk dosa besar adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang menampakkan keshalihan, lantas ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yang diterjang adalah dosa kecil dan dilakukan di kesepian


 

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kisah mengenai perihal Amirul Mukminin Umar bin Khaththab yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab. Umar bertanya tentang pengertian takwa.

Umar: Wahai Ubay, apa yang dimaksud dengan takwa?

Ubay: Pernahkah Anda melalui suatu jalan yang terdapat duri di jalanan tersebut?

Umar: Pernah

Ubay: Lalu apa yang Anda lakukan?

Umar: Aku singkapkan sarungku atau pakaianku, kemudian aku berhati-hati melewati jalan tersebut agar tidak terinjak duri.

Ubay: Itulah takwa.

Ubay bin Ka’ab mengungkapkan pengertian takwa dengan memisalkannya dengan analogi yang sangat mudah dipahami. Seseorang yang melewati jalan yang berduri tentu saja ia akan berhati-hati melewati jalan tersebut.

 

Kalau kita realisasikan permisalan ini dengan kehidupan kita sehari-hari. Takwa adalah mengetahui hal-hal yang biasa mencelakakan kita atau membahayakan kehidupan kita di akhirat kelak, setelah kita tahu lalu kita jauhi hal-hal tersebut.

Jangan remehkan sesuatu yang kecil, karena gunung yg besarpun berasal dari kumpulan partikel2 kecil.

Inilah hakikat ketakwaan menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadirin rahimakumullah !

Takwa adalah sesuatu yang sangat penting dalam akidah Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang kemuliaan seseorang bergantung dengan ketakwaan yang tertancap di dadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun masih meminta kepada Allah agar Dia menambahkan ketakwaan untuk dirinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengucapkan doa

اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى

“Ya Allah, aku memohon petunjuk dan ketakwaan kepada-Mu.”

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja senantiasa meminta kepada Allah agar menambahkan ketakwaan kepada dirinya, maka kita sebagai umatnya lebih layak lagi untuk memohon kepada Allah agar menambahkan ketakwaan kepada diri kita.

 

Hadirin rahimakumullah !

Kemudian di wasiat Nabi Muhammad Saw.yang kedua , sebagaimana hadits di atas adalah :

 

وَأَتْبِعْ السَيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebajikan, niscaya kebajikan tersebut akan menutupinya.”

 

Dalam keseharian kita ,Tidak disangsikan lagi kita adalah orang-orang yang senantiasa tak lepas berbuat dosa, menzalimi diri kita sendiri, melanggar perintah Allah Subhaanahu wa Ta’ala atau meninggalkan kewajiban yang Dia perintahkan kepada kita.

Oleh karena itu, kita sangat butuh agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta dihapuskan dari catatan amal-amal kita, agar kita menemui Allah di akhirat kelak dengan memenuhi catatan amal kebajikan kita.

Di antara upaya untuk menghapus catatan dosa kita adalah dengan memperbanyak berbuat kebajikan seperti yang telah Rasulullah Saw. Jelaskan dalam sabdanya di atas. Kita disini duduk di masjid di rumah Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk menunaikan kewajiban kita shalat Jumat berjamaah, kita menambahi ritual kewajiban ini dengan amalan-amalan lainnya; shalat sunah, membaca Alquran, bershalawat, dll. Tentu saja ini adalah kebaikan yang banyak dan agung. Kita ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah, maka amalan kita saat ini insya Allah termasuk catatan kebaikan kita dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kita.

 

 

 

Hadirin yang dirahmati Allah

Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketiga adalah mengajarkan kita menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu waTa’ala dengan bertakwa dan beribadah kepada-Nya, beliau melanjutkan bagaimana hendaknya kita menjalin hubungan sosial sesama manusia dan sesama hamba Allah.

Beliaubersabda,

وَخَالِقِ النَاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.

Beliau mewasiatkan agar kita bersosialisasi dengan baik, dengan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَكْثَرَ يُدْخِلَ النَاسَ الجَنَّةَ التَقْوَى اللهَ وَحُسْنُ الخُلُق

“Sesungguhnya yang paling banyak memasukkan seseorang kedalam surga adalah bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik / mulia.” (HR. Bukhari)

 

Berakhlak baik kepada Allah dan kepada sesama manusia walaupun orang-orang tersebut orang yang ingkar kepada Allah –orang kafir atau non-muslim-.

 

Demikianlah wasiat singkat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiga wasiat singkat namun mencakup segala hal, mencakup permasalahan bagaimana hendaknya seseorang mengarungi kehidupan mereka di dunia untuk menjemput kehidupan yang bahagia di akhirat kelak. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menambahkan ketakwaan kepada kita sehingga kita dengan ringan menjalankan kewajiban-kewajiban kita dan enteng untuk meninggalkan segala yang Dia larang. Dan semoga Allah membimbing kita agar menjadi pribadi-pribadi yang beraklakmulia

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ