Kamis, 17 September 2015

Khutbah Jumat "Dahsyat Keutamaan Bulan Dzulhijah"

KHUTBAH JUMAT “KEUTAMAAN BULAN ZULHIJAH” 18-9-2015
Masjid Nurul Qomar – Puri Cilegon Hijau

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,,
Kita saat ini tengah berada di bulan Dzulhijjah 1436 H. Dengan demikian kita telah memasuki salah satu 4 bulan haram sebagaimana firman Allah ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhir) dan Sya'ban."
(HR. Al Bukhari: 4385 dan Muslim: 1679)

Kenapa disebut bulan Haram dan Larangan :
"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar." (Al-Baqarah 217)

'Abdullah bin 'Abbas mengatakan :
"(Janganlah kalian menganiaya diri kalian) yakni pada seluruh bulan yang ada, kemudian dikhususkan dari bulan-bulan itu empat bulan yang Allah telah menjadikannya sebagai bulan-bulan haram, yang telah dilebihkan kedudukannya daripada bulan yang lain. Dan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar dihadapan Allah, begitu juga amalan shalih yang dilakukan akan menghasilkan ganjaran yang lebih besar pula." (Lathaif Al Ma'arif: 124)


 Jamaah Jumat rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil nilai-nilai tarbiyah yang ada di dalamnya.

1. Haji & Umroh
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.

Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan kekuasaannyaKita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.

Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)

Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah : 197)
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang beriman.

Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman, begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan. Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah, dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:

Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1436 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.

1. Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)

Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

2 Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.

Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. :

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.

Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)

3. Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id. Sholat Idul Adha merupakah salah satu dari syiar-syiar agama Allah

4. Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih anak-anak  kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT..

Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)


لَنْيَنَالَاللَّهَلُحُومُهَاوَلَادِمَاؤُهَاوَلَٰكِنْيَنَالُهُالتَّقْوَىٰمِنْكُمْ

”Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu” (QS. Al Hajj: 37)

Ini sebagai symbol atau gambaran bahwa untuk mendapatkan jiwa yg taqwa maka harus kita sembelih sifat kebinatangan dalam diri kita, Kemelkatan terhadap harta benda, anak kesenengan dunia lainya terkadang dapat melalaikan kita dari taat kepada Allah SWT, oleh karenanya Allah SWT memberikan syariat berupa berqurban

Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1436 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.

KHUTBAH KEDUA

Kamis, 15 Mei 2014

Khutbah Jumat Isro Mi'raj "Hikmah Pentingnya Sholat"

Berikut ini kutipan khutbah Jumat Mushola Nurul Qomar Puri Cilegon Hijau pada hari Jumat, 16 Mei 2014, by Supriyanto
================================================

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumulllah
Kita bersyukur kepada Allah SWT bahwasanya pada kesempatan ini kita masih diberikan banyak nikmat yang tak terhingga yang apabila kita hitung sunguh kita tak akan mampu menghitung-hitungnya, sekalipun laut dijadikan tintanya, ranting-ranting dijadikan penanya niscaya tidak akan bisa menuliskanya. Hingga Allah SWT selalu menegur kita "Fabiayyi aalairabbikuma tukadziban..maka nikmat dari Tuhanmu yang mana lagi yang kalian dustakan"
Dengan diberikan kesempatan hidup sampai dengan hari ini berarti hakekatnya Allah SWT masih ingin agar kita bisa memperbaiki ibadah kita, pengabdian kita, ketaqwaan kita hanya kepada Allah SWT karena sesungguhnya orang yang paling mulia adalah orang yang bertaqwa di antara kita semua..

Hadirin Sidang Jumah Rahimakumullah...
Tidak terasa hari ini kita sudah berada di pertengahan bulan Rajab, dimana Rasulullah SAW pernah mengabarkan kepada kita bahwa Rajab itu adalah bulanku, Sya'ban adalah bulan Allah dan Ramadhan adalah bulan umatku. Hingga Rasulullah SAW berdoa "
“Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.”
Yang artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”


 Begitu mulianya bulan Rajab sampai Rasulullah SAW menyandingkan dengan bulan Sya'ban & bulan Ramadhan. Bahkan Allah SWT berfirmandalam surah At-Taubah 36 :


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Empat bulan haram yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bulan Zulka’dah, Zulhijjah, Muharram dan rajab. Pada empat bulan ini dinamakan dengan haram karena padanya dilarang orang melakukan perbuatan aniaya dan peperangan, baik secara fisik memerangi orang atau non fisik dengan melakukan makar atau pembunuhan karakter dengan menyebarkan sebaran yang memuat kesesatan orang yang melakukan amalan bulan rajab.

Hadirin Sidang Jumah Rahimakumulllah
Suatu peristiwa besar yang terjadi pada bulan rajab adalah peristiwa isro' mi'raj nabi Muhammad SAW dimana beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sampai Sidratul Muntaha bertemu dengan Allah untuk menerima sebuah perintah ibadah yaitu perinta sholat.
Bila perintah ibadah lainya seperti puasa, zakat, haji dan lainya disampaikan melalui malaikat Jibril as, namun perintah Sholat ini merupakan perintah istimewa karena langsung dipanggil oleh Allah SWT. Begitu istimewanya perintah sholat ini hingga dikatakan bahwa sholat merupakan barometer ibadah. Sampai Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita bahwa "Amal pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba di hari kiamat nanti adalah shalat. Maka apabila Shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika sholatnya buruk, rusaklah semua amalnya. (HR. Thabrani).


Betapa hebatnya perintah sholat ini hingga dikatakan sebagai tolok ukur sebuah amalan, kalau baik sholatnya akan baik seluruh amalnya namun jika jelek sholatnya akan ruaklah seluruh amalanya. Pesan ini menyadarkan kepada kita untuk menjaga perinta Allah yang agung ini, namun lihat disekeliling kita betapa banyak orang yang menyia-nyiakan perintah ini. Sampai-sampai Imam Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya. Wahai murid-murid ku apa di dunia ini yang paling ringan? Maka semua muridnya ada yg menjawab kapas, angin/udara, debu, daun dan lain sebagainya. Kata Imam Ghazali itu semua benar namun ketahuilah bahwa sesungguhnya di dunia ini yang paling ringan adalah meninggal kan sholat.. Astaghfirullah..
Betapa banyak orang yang masih mengaku sebagai muslim namun sudah banyak meninggalkan perintah sholat ini, padahal Allah SWT mengingatkan kepada kita

Wahai orang yang beriman janganlah hartamu dan anak-anakmu melalikan kamu dari mengingat Allah, jika kalian berbuat demikian sungguh kalian akan termasuk orang yang merugi. (Al-Munafiqun : 9)

Hanya karena sibuk dengan perdaganganya, sibuk dengan pertanianya, sibuk dengan bisnisnya, rela meninggalkan sholat. Padahal ketika maut itu tiba apapun yang kita sibukkan hari ini dari perniagaan kita, rumah kita, usaha kita semua akan kita tinggalkan.
Dan yang akan kita bawa hanya Iman dan amal Sholeh kita. Sebagaimana Allah SWT ingatkan dalam lanjutan ayat di atas :
Dan nafkahkanlah dari apa-apa rezeki yang telah dikaruniakan kepadamu sebelum datangnya maut yang sudah dekat. Dan Jika maut sudah mendekat maka ia akan berkata kembalikanlah kami ke dunia sebentar saja dan aku akan beriman dan beramal sholeh, Dan ketahuilah bahwa ketika maut datang tidak dapat ditunda barang sedetikpun, dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang engkau kerjakan. (Al-Munafiqun 10-11)

Oleh karena itu saudaraku janganlan sampai kita menyesal di akhir hidup kita karena menyia-nyiakan perintaah Allah SWT ini. Marilah kita perbaiki Iman dan Amal Sholeh kita karena amal in lah yang akan kita bawa sebagai bekal menuju kehadirat Allah SWT.
 

Hadirin Sidang Jumah Rahimakumullah Lalu sholat seperti apakah yang dimaksud seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tadi? Dalam Sabdanya yang lain rasulullah SAW mengatakan " Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat"
Naah bagaimana cara sholat nabi ini, setidaknya ada 3 ketertiban dalam perintah sholat :
1. Tertib Waktu "sebaik-baik amalan adalah sholat tepat pada waktunya"
    Betapa banyak kita melalaikan waktu sholat, kita ibaratkan kalau kita bekerja disebuah instansi pabrik ataupun kantor dimana kantor mulai kerjanya jam 8.00 maka biasanya sebelum jam 8.00 kita sudah berangkat bekerja sudah sampai ditempat kerja kita. Begitu disiplinya kita bahwkan hujan panaspun tidak menjadi penghalang karena kita tahu kalau kita terlambat maka resikonya kita akan kehilangan pekerjaan kita. Namun lihat bagaimana dengan perintah Allah Dzat yg menciptakan kita, yang memberikan kehidupan kepada kita, kita terlalu leha-leha bahkan menyepelekanya, Astaghfirullah..

2. Tertib Tempat "Sebaik tempat sholat 5 waktu adalah di masjid"
Tidak hanya awal waktu namun cara yang kedua yaitu tempatnya dimasjid, sebagaimana Allah berfirman dalam surah at-taubah 18 :
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
Allah menyampaikan bahwa tanda jika kita termasuk orang yg beriman adalah kita senantiasa memakmurkan masjid, sekarang tengoklah keadaan di sekeliling kita, berlomba-lomba membangun masjid namun tidak berlomba memakmurkan masjid. Masjid hanya tinggal bangunan-bangunanya saja.
Padahal Rasulullah SAW menasehati kita bahwa 'berjalanya seorang hamba ke masjid untuk sholat berjamaah, satu langkah kaki mengangkat derajat dan satu langkah kaki mengurangi dosa-dosa kita" Apakah kita tidak memperhatikan  ini semua??

3. Tertib cara "Berjamaah"
Rasulullah SAW memberikan nasehatnya lagi bahwa "Sholat berjamaah itu lebih baik 27 derajat dibandingkan sholat sendirian"
Sebagaimana orang yang beriman tentunya kita paham akan perintah ini. Kalau untuk ursan dunia saja kita selalu ingin untung yang besar bagaimana dengan urusan akherat??  Hari ini kita begitu menyia-nyiakan perintah ini, padahal dalam berbagai riwayat Rasululah SAW dan para sahabat ra senantiasa menjaga sholat berjamaah. Bahkan ada seorang buta yg rumahnya jauh dari masjid meminta keringanan untuk sholat dirumah sendiri, namun rasulullah bertanya "apakah engkau mendengar adzan? maka dia menjawab, mendengar ya rasullullah, maka penuhilah adzan itu. Subhanallah..
Sekarang lihatlah kita, saat ini kita diberikan berbagai nikmat sehat, mata masih bisa melihat, kaki masih bisa berjalan tapi betapa banyak nikmat yang kita sia-siakan ini, padahal Allah SWT telah menegur banyak sekali dalam Alquan diantaranya "Tsuma latus alunna yaumaidzin anin naiim...."pada hari itu semua nikmat akan diminta pertanggung jawabanya" apakah kita siap mempertanggung jawabankan nikmat2 kita di sisi Allah SWT?
 
Hadirin sidang Jumah Rahimakumullah..
Oleh karena itu marilah kita koreksi kembali kualitas ibadah kita di sisi Allah SWT, apakah kitaa sudah bersungguh-sungguh ataukah kita masih main-main. Dengan sholat yang benar sesuai dengan contoh dari nabi kita berharap ini akan menjadikan pelakunya tercegah dari berbuatan keji dan munkar. Dengan masih diberikan waktu sampai dengan hari ini marilah kita instrospeksi diri sebelum kita dipanggil Illahi Rabbi..

Barakallahu..

terima kasih

Salam,

Mas Priyanto (pintulangit@gmail.com)